- Back to Home »
- Bonus Demografi Merupakan Berkah Atau Bencana
Posted by : Unknown
Minggu, 19 April 2015
BONUS
DEMOGRAFI MERUPAKAN BERKAH ATAU BENCANA
Indonesia
dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa karena negara yang subur dan kaya dengan sumber
daya alamnya tersebar melimpah dari Sabang sampai Merauke. Ditambah lagi dengan
keuntungan yang akan segera didapatkan pada tahun 2020-2030 mendatang. Pada
periode tersebut, Indonesia akan memiliki susunan demografi yang jarang didapat
oleh sebuah negara. Penduduk usia angkatan kerja (15 tahun-64 tahun) pada
periode itu akan lebih banyak daripada penduduk usia tidak produktif. Melalui program Keluarga Berencana jumlah penduduk yang harus
ditanggung oleh mereka yang bekerja sudah menurun hingga 50 orang
Bonus demografi adalah bonus atau peluang (window of opportunity) yang dinikmati suatu negara sebagai akibat
dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam
evolusi kependudukan yang dialaminya. Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah
satunya adalah menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat
penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan
anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk
produktif. Bonus demografi menjadi pilar peningkatan produktivitas suatu
negara dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan SDM
produktif. Ketika angka fertilitas menurun, pertumbuhan pendapatan perkapita
untuk memenuhi kebutuhan penduduk usia anak-anak dapat dialihkan untuk
peningkatan mutu manusia. Pada saat yang sama, jumlah anak yang sedikit, akan
membuka peluang perempuan untuk masuk ke pasar kerja yang sekali lagi akan
mendongkrak produktivitas.
Bonus Demografi memang seperti dua mata pisau. Di satu sisi dia
adalah harapan, di sisi lain dia justru bisa menjadi petaka.
Mantan
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Fasli Jalal
mengatakan, bonus demografi merupakan masalah serius yang menuntut persiapan
seluruh bangsa. "Ini masalah yang sangat serius, kalau Indonesia tidak menyiapkan diri untuk
memfasilitasi bonus demografi tersebut. Hal ini senada dikatakan budayawan UI, Radar Panca Dahana bahwa bonus
demografi yang akan terjadi tahun 2020 sampai 2030 adalah merupakan suatu bencana.
Bahkan Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, melihat perlunya kritis
menanggapi bonus demografi yang dialami Indonesia. Tanpa persiapan yang matang,
maka bonus demografi bisa menjadi beban tambahan. Ketua Dewan Pertimbangan
Presiden (Wantimpres) Emil Salim mengatakan, salah satu tantangan terbesar
pemerintahan pimpinan Presiden Joko Widodo dalam sektor kependudukan adalah
menghadapi trend demografi dengan
komposisi penduduk didominasi usia produktif.
Namun demikian
dikatakan oleh Fasli di Jakarta "Kita siap dan optimistis menyambut bonus demografi dengan melihat
profil anak muda yang saat ini sedang dipersiapkan untuk menempuh pendidikan
setinggi mungkin, bekerja dengan baik hingga menyiapkan masa depan yang lebih
cerah" Mereka yang akan menjadi penentu bonus demografi adalah para pemuda
dimana jumlahnya saat ini mencapai 65 juta orang. Jika setiap pemuda Indonesia bisa
menyelesaikan pendidikan minimal SMA sederajat maka mereka akan menjadi tenaga
kerja produktif yang handal. Demikian juga jika ada yang tidak sempat menyelesaikan
pendidikan formal namun diberikan pelatihan keterampilan yang menjadi modal
hidup maka akan menjadi tenaga terampil.
Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia
kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu
pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah
meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun berkah ini
bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya.
Bonus Demografi tidak serta merta datang dengan sendirinya, tetapi untuk
menjadikan potensi nasional, perlu dipersiapkan dan selanjutnya dimanfaatkan
bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
